Belajar Dari Veles

Veles adalah sebuah kota kecil di Macedonia yang mungkin jarang dikenal orang. Belakangan kota kecil ini menjadi mendunia karena beredaranya banyak berita palsu khususnya berbarengan dengan momentum pemilihan presiden di Amerika Serikat 2024 silam. Negara Macedonia sendiri merupakan negara pecahan Yugoslavia ini sedang mengalami kelesuan ekonomi. Kurangnya lapanagn kerja membuat banyak anak muda mulai mencari peluang menggunakan teknologi baru, Internet. Momentum persaingan yang keras di ajang perebutan kursi presiden AS antara Hillary dan Trump menjadi ajang “permainan” anak-anak generasi digital ini.
Sebagai generasi yang akrab dengan Internet, anak-anak Veles ini tidak canggung membuat dan memanfaatkan media online dengan lihai. Mereka dengan mudah dapat membuat situs web dengan tampilan meyakinkan dan mengisinya dengan berita-berita yang “menyihir” pembacanya untuk percaya dan menyebarkannya dengan cepat. Sebagian besar berita yang diproduksi anak-anak ini dimodifikasi dari berita asli atau bahkan dikarang sendiri. Semakin heboh berita yang dibuat maka semakin berita itu menjadi viral. Semakin viral berita yang diunggahnya, semakin banyak uang mengalir ke pundi-pundinya melalui periklanan, khususnya Google Adsense. Pendapatan mereka ini bisa sampai ribuan dolar setiap bulannya
Tak ada preferensi dan kepentingan politik dari mereka ini, semua hanya karena uang. Dalam investigasi yang dipublikasi Buzzfeed.com, salah seorang dari para pembuat hoax ini mengaku memiliki dua macam situs sekaligus, yang mendukung Hillary dan Trump. Namun, karena pendukung Hillary cenderung tidak suka membaca berita hoax maka situs pendukung Hillary ini tidak begitu laku. Lain halnya dengan situs pendukung Trump yang ternyata sangat suka mengonsumsi berita yang dimuat di situs-situs abal-abal ini dan bahkan dengan bersemangat dan sukarela menyebarkannya. Akhirnya mereka lebih fokus “menggarap” pendukung Trump, bahkan sampai sekarang.
Ada beberapa hal yang dapat kita ambil pelajaran dari kisah ini. Pertama, Internet sesungguhnya membuka peluang yang sangat lebar. Bagaimana mungkin anak-anak remaja di sebuah negara kecil ternyata mampu memengaruhi perhelatan politik di sebuah negara super power di benua lain yang jaraknya ribuan mil. Kedua, anak-anak generasi baru ini muncul dan membuat keisengan yang sebenarnya secara moral sudah keterlaluan. Mereka berbuat apa saja demi untuk uang tanpa mempertimbangkan dampaknya. Ini tentu harus kita perhatikan jangan sampai generasi kita yang seusia mereka ini memanfaatkan peluang dengan cara yang salah. Ketiga, ternyata masyarakat di negara maju seperti Amerika Serikat-pun masih rentan dengan hoax. Di negara kita masyarakat yang rentan dengan hoax mungkin jauh lebih besar.
Indikasi bahwa di negara kita ini juga ada sebagain orang (dan bukan cuma remaja) yang berperilaku seperti anak-anak Veles nampaknya mulai tumbuh. Ini tentu yang harus diwaspadai. Sindikat penyebar hoax dan ujaran kebencian yang baru-baru ini diungkap Polri nampaknya juga memiliki modus yang mirip. Disinyalir mereka bermain SARA di dua kaki, di satu sini menebarkan kebencian ke agama tertentu tapi mereka juga menebarkan berita bohong dan kebencian dari sisi berkebalikannya. Ditengarai pula bahwa mereka menawarkan “jualan” berita bohong dan ujaran kebencian ini dengan tarif puluhan juta rupiah. Kalau anak-anak Veles “mempermainkan” masyarakat di negara lain, kelompok ini lebih tidak bermoral lagi karena mengadu-domba saudara sebangsanya.
Sebagai masyarakat pengguna Internet dan khususnya warga media sosial, dengan melihat fenomena ini kita sudah seharusnya lebih waspada dan ekstra hati-hati dalam menerima informasi dan, terlebih lagi, menyebarkannya.
MUH. TAMIMUDDIN H.
